Catastrophe of Hunger and The Ardor of Famine
Eons ago she struck deep terrors onto the bowels of Hell and city of Heaven. She was fearless, relentless and a merciless figure feared by many. The sharp pair of eyes that struck the gaze of all who see her often times through the fear they emanate. A yellowish almost dark orange pupil of her combine, melted with the long wavy silvery hair put a trademark of Famine.
Through the countless battles she had fought, an emptiness began to grow, yet instead of a long lost feeling of bloodlust, another emotion emerged, wrapped in an anxious, grief and sadness that wrought tears of Catastrophe. And yet despite the terrifying figure she made out of her attire, the radiance of fairness blended with elegance can be seen in the flesh as they saw the claw-shaped tiara tarnishing her head.
Temukan kejutan dan keajaiban di setiap tokohnya
Penuh adegan-adegan fantasi yang seru nan hidup
Diksi dan gaya bahasa Inggris yang mudah dipahami
Axel Eric Fernando Siregar
Axel Eric Fernando Siregar adalah namanya. Seorang pemuda berusia 24 tahun dengan ketertarikanya di dalam dunia fantasi yang sudah dimulai sejak masih di bangku kelas 2 SD saat mengenal dunia game. Game yang mengenalkan dirinya kepada bahasa Inggris membuatnya tertarik hingga melanjutkan pendidikan-nya ke jenjang perkuliahan di Program Studi Sastra Inggris yang diselesaikannya dalam kurun waktu 4 tahun.
Kini ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Di luar kesibukanya dengan keseharian kantoran, akhir pekannya kerap diisi dengan hobi yang sudah ditekuninya semenjak kecil. Games dan buku adalah sasaran ketenanganya di akhir pekan yang membuatnya larut dalam dunianya. Dimulai dari First Person Shooting (FPS), Massively Multiplayer Online-Role Playing Game (MMORPG), Role Playing Game, Action, Adventure, E-Sports merupakan berbagai genre yang sudah disukainya semenjak mengenal dunia game.
Kombinasi dari fantasi yang disajikan dalam game dan buku yang disuguhkan kepadanya membawanya kepada ide untuk menuliskan buku ini dan menerbitkanya sebagai karya pertama yang ingin dia bagikan secara luas untuk dinikmati orang lain. Terlepas dari buku pertamanya, ini bukan merupakan pengalaman pertamanya untuk menulis, beberapa dari puisi yang dituliskanya tidak lupa untuk dibagikanya dalam akun-akun media sosialnya.
Anak terakhir dari empat bersaudara ini kerap kali bereksperimen dengan kata yang ditemukannya menarik untuk digali lebih dalam. Berkat eksperimen dan rasa penasaran tersebut terkadang tercipta untaian kata dalam paduan kalimat puisi dan tulisannya yang menarik tidak hanya satu dan dua pasang mata dalam membacanya.